Moga bunda disayang Allah
Wednesday, December 26th, 2007Kalau
ditanyakan anugrah terbesar yang kumiliki maka akan kujawab memiliki
kedua orang tua utuh seperti saat ini khususnya ibu yang hebat seperti
beliau
Kalau
ditanyakan kenikmatan terbesar yang kurasakan selama ini maka akan
kujawab bagaimana aku dibesarkan dari tangan seorang ibu seperti ibuku
Kalau ditanyakan siapa wanita, pahlawan, dokter, dan guru paling berjasa di hidupku maka aku akan menjawab pertama yaitu ibuku
Kalau ditanyakan siapa orang pertama yang ingin kamu bahagiakan di dunia ini maka aku pun akan menjawab ibuku
Waktu kecil, kalau ditanyakan siapa orang paling hebat sempurna di mataku maka aku hanya punya satu jawabannya yaitu ibuku
Teringat
masa ketika aku duduk di bangku sekolah dasar. Saat kelas 5 SD aku
memperoleh pekerjaan rumah diminta untuk menceritakan siapa idolaku.
Pulang sekolah, segera kukerjakan pekerjaan rumah itu, yah aku begitu
excited untuk mengerjakannya. Sejak dulu saat aku telah hapal banyak
tokoh-tokoh dunia bahkan menteri-menteri dari buku pintar maupun
artis-artis di TV, bagiku tokoh idolaku selalu dari dulu adalah Ibuku.
Dalam pikiranku sudah beribu alasan yang ingin kutuliskan di bukuku
untuk menceritakan bahwa ibuku adalah seorang idola yang tidak kalah
dari tokoh-tokoh tersebut bahkan bagiku ibukulah yang terhebat.
Toko
idolaku adalah Ibuku, Caya Khairani. Beliau adalah seorang pegawai
negeri yang mendedikasikan hidupnya menjadi ibu rumah tangga yang
sangat ulet. Beliau adalah wanita minang yang soleh dan patuh.
Kepatuhan terhadap agama kupelajari dari beliau. Bagaimana kami anaknya
sekarang bisa berhasil dalam setiap hal adalah hasil dari doa-doa di
salat malamnya. Beliau adalah wanita yang cerdas, pintar masak bahkan
di keluarga ayahku masakan ibuku terkenal paling enak. Beliau juga
wanita yang cukup sensitif ketika menonton suatu suatu pemandangan yang
menyedihkan tentang kemanusiaan di televisi terkadang beliau tidak bisa
menahan air matanya walaupun ketika kami sedang nonton bersamanya. Atas segala kelebihan dan kekurangannya, beliau adalah wanita yang sempurna di mataku.
Bagiku
ibuku adalah wanita yang serba bisa. Segalanya beliau bisa lakukan
untukku. Alasan utama yang membuatku sangat kagum kepada beliau yaitu
bagaimana dia bisa berperan optimal sebagai ibu rumah tangga, guruku di
rumah, istri yang saleh, sekaligus bekerja di kantor. Di rumah beliau
benar-benar adalah seorang ibu tapi di sisi lain beliau memberikan
contoh bagaimana bisa bekerja di luar rumah tanpa meninggalkan profesi
utamanya. Walaupun beliau bekerja namun aku tidak pernah sama sekali
merasa kehilangan fungsi beliau sebagai ibu rumah tangga. Oleh karena
itu, aku sangat mendukung beliau atas pekerjaannya. Bahkan bila beliau
dikirim keluar kota dan harus meninggalkan kami adalah kebahagiaan bagi
aku karena selalu setelah pulang dari luar kota beliau pasti membawakan
banyak oleh-oleh untukku dan adikku.
Bagaimana
beliau berperan sebagai ibu rumah tangga kurasakan sejak pagi hingga
malam kutidur. Sama sekali tidak ada kekurangan dalam peran yang dia
lakukan. Pagi hari beliau selalu bangun lebih dulu untuk mempersiapkan
makan pagi untuk keluarganya dan kemudian membangunkan anak-anaknya.
Terkadang karena aku malas bangun, harum masakannya justru yang bisa
membangunkanku. Yah, beliau sangat pintar memasak terlebih memasak
makanan kesukaan keluarganya. Masakan kesukaanku pun selalu menjadi
menu andalan makan pagi kami. Masakan pagi yang dimasak oleh beliau
adalah suntikan energi terbesar bagi kami sekeluarga untuk beraktivitas
sehari. Oleh karena itu, baginya memasak makan pagi haruslah spesial
bukan memasak makan sisa semalam tapi bener-bener masak sayur baru,
lauk baru. Bagiku pun akhirnya makan pagi adalah makanan yang selalu
kutunggu-tunggu. Di siang hari karena jam pulang kantor biasanya jam 2
maka terkadang bukan beliau yang masak, biasanya orang rumah yang masak
lauk yang sudah dibumbui oleh ibuku.
Bagiku
kedatangan orang tuaku dari kantor adalah saat-saat menyenangkan
terlebih ibuku karena mereka terkadang suka membawakan sesuatu untuk
kami. Waktu kecil pun menunggu kedatangan ibu dari kantor adalah saat
ketika aku ingin bertanya tentang pekerjaan rumahku. Aku selalu
mengingat suatu momen yang berhubungan dengan kebiasaan itu dan paling
mempengaruhi hidupku. Suatu hari ketika aku duduk di kelas 4 SD dan
memperoleh nilai jelek dalam ulangan matematikaku, saat itu matematika
bukanlah pelajaran yang sangat kusukai dan juga tidak kubenci. Yang
kusadari adalah ibuku adalah guru matematika bagiku dan bila aku tidak
tahu maka aku tinggal bertanya kepadanya. Siang itu ketika beliau
sampai di rumah, segera kuceritakan tentang hasil ujianku dan bagaimana
itu akan mempengaruhi keseluruhan nilaiku (yah itu bisa mempengaruhi
rankingku tentunya yang kebetulan biasanya menjadi yang terbaik). Aku
meminta diajarkan kembali isi ujianku agar tidak mengulangi lagi. Hal
yang paling kuingat setelah ibuku mengajarkanku beliau bercerita kenapa
waktu kecil beliau suka dengan matematika karena “matematika justru
pelajaran yang mudah karena setiap pertanyaan pasti memiliki hasil yang
pasti, kita tidak perlu bingung untuk memikirkan jawabannya, kita hanya
perlu berhitung untuk itu” yah kalimat itu masih selalu membekas hingga
ketika SMA aku pernah diwawancara oleh suatu harian kota Makassar
tentang prestasiku di bidang itu dan aku pun menceritakan tentang
pengalaman kecil yang sangat mempengaruhiku itu. Namun, sebenarnya
pengalaman ibuku itu tidak hanya mempengaruhiku atas kesukaan terhadap
matematika namun juga sempat membuatku tidak tertarik dengan bahasa
indonesia. Tanya kenapa? Karena kalimat ibuku tidak berhenti disitu
saja, lanjutannya “jadi kalau mau tanya tentang matematika ke mama
saja, tapi kalau bahasa Indonesia jangan tanya mama karena berbeda
dengan matematika, jawabannya tidak pasti dan mama kurang tahu tentang
itu”. Wuaaa kalimat itu cukup sukses mengarahkan ketidaksukaanku pada
bahasa Indonesia tapi untungnya aku memiliki teman-teman SMP yang suka
membaca buku-buku dari sastra (kahlil gibran), novel, sampai komik. Yah
itu cukup mempengaruhiku.
Kembali
ke ibuku, pulang kantor adalah waktu istirahat yang dihabiskan bersama
keluarganya. Kadang beliau mengajakku untuk tidur siang bersama.
Saat-saat itulah ketika beliau bercerita tentang kebiasanku dan adikku
waktu kecil misalnya ketika aku tidak mau tidur siang tapi akhirnya
bisa karena dielus-elus oleh ibuku. Atau terkadang, saat-saat itu
dihabiskan untuk bercanda bersama di tempat tidur (yah itu masa-masa
SD-SMP sebelum sore hariku diisi dengan kesibukan les). Sore hari
adalah waktu untuk memasak makan malam bagi beliau. Pada saat bulan
puasa, momen memasak makanan buka puasa adalah yang paling
kutunggu-tunggu. Biasanya aku suka minta dimasakan makanan tertentu
terus dengan niat ingin membantu tapi waktu kecil sayangnya biasanya
ditengah-tengah aku malah bermain ke sebelah rumah dan ketika aku
kembali semua sudah jadi. Perfect!!! Terkadang aku bingung ingin
membantu karena biasanya ada orang lain yang membantu ibu.
Puasa
kemarin berbeda dari yang sebelumnya karena seingatku sangat jarang
tidak ada orang yang membantu ibuku mengurus rumah baik itu pembantu
atau tante yang tinggal di rumah. Padahal dapur rumahku harus
menghasilkan masakan berbuka puasa untuk orang rumah plus pekerja di
swalayan dekat rumahku (porsi besar). Kebetulan sebulan terakhir
sebelum puasa kemarin, mbak yang biasa membantu ibuku akhirnya berhenti
bekerja karena harus menikah dan akhirnya ibuku sendiri yang memasak.
Bayangkan makanan yang harus dimasak dalam porsi yang besar dan itu
dikerjakan oleh ibuku. Seperti biasa setiap sore di bulan ramadhan
adalah waktuku untuk menemani ibuku di dapur tapi bedanya kemarin hanya
kami berdua walaupun terkadang bila nenekku menginap di rumah beliau
juga ikut membantu. Nah tapi ada atau tidak adanya aku di dapur kadang
menurutku tidak berpengaruh besar. Dibantu orang atau tidak, ibuku
sebenarnya bisa menyelesaikannya sendiri, Amazing… Entah kenapa
ketika melihat ibuku memasak, kelihatannya memasak berbagai jenis
dengan ukuran yang banyak bukan pekerjaan yang sulit baginya (mungkin
karena terbiasa). Tidak pernah ada keriwehan ataupun keluhan yang
keluar dari mulutnya. Padahal secara pribadi aku kagum pekerjaan dapur
itu bisa beres dalam sekejap. Yah,,, itulah keahlian ibuku, ketika
beliau di dapur, aku melihat tipe pekerja kerasnya. Wuih, makanya
jangan heran karena tidak pernah melihat ibuku kesulitan dalam memasak,
bagiku pun memasak bukan hal yang sulit *hahaha pdhl itukan ibuku
*.
Yah, secara teori, menurutku memang setiap orang pasti bisa memasak,
tergantung bagaimana dia membiasakannya.
Malam
hari adalah waktu buat ibuku untuk mengajak adikku belajar. Kebetulan
minat belajar adikku mesti diarahkan dulu. Waktu masih kecil, setelah
makan malam pun biasanya adalah waktuku untuk tidur di pangkuan ibuku.
Yah, waktu kecil keliatannya aku cukup manja *tidak banyak berubah sih
saat dewasa :p *. Yang paling berkesan adalah ketika aku harus begadang
menyelesaikan tugas rumahku, ibuku pasti menemaniku. Bahkan ketika aku
bandel menonton sampai malam, biasanya ibuku selalu terbangun dan
memintaku segera tidur.
Hubungan
dengan ibuku tidak selamanya berjalan baik. Aku pun pernah mengalami
masa-masa masuk usia remaja dimana sulit untuk nyambung dengan beliau.
Masa adaptasi ketika tidak terbiasa tinggal dengan orang tua. Tapi
itulah beliau, doa, kesabaran, dan pengorbanannya bisa mengalahkan
segalanya. Masa transisi itu bisa kulewati sehingga sekarang aku pun
berusaha selalu menjadi anak baik baginya dan bisa dengan mudah
bercerita banyak dengannya. Yah, sepesat apapun perkembangan diriku,
sejauh apapun jarak yang memisahkan kami, beliau selalu sabar untuk
berperan menjadi ibu bagiku.
Hal
yang selalu aku ingat dari ibuku adalah ketika aku sakit, beliau selalu
ada di sampingku. Herannya, hal ini masih selalu terjadi hingga saat
ketika aku harus berpisah dengannya. Hal yang paling aku suka yaitu
bila anak-anaknya demam maka ibuku selalu mendekatkan tubuhnya pada
kami dan berharap demam anaknya akan pindah kepadanya. Ketika anaknya
sakit apapun akan beliau lakukan agar kami sembuh, dari memasakkan
makanan yang kami inginkan atau bahkan harus bolos kerja untuk menemani
kami. Bahkan ketika SMA, ketika aku masuk rumah sakit, ibuku langsung
terbang dari palu-makassar. Ah, makanya terkadang sangat tidak enak
rasanya ketika sakit karena aku pasti merepotkan ibuku. Karena pasti
beliau akan mengorbankan pekerjaannya untuk merawatku. Anehnya ketika
kuliah, kebetulan hampir di saat aku sakit (termasuk ketika setahun
yang lalu aku masuk rumah sakit) selalu ketika ibuku sedang berada di
Bogor untuk urusan pekerjaan sehingga terkadang dengan mudah beliau
bisa segera datang menemuiku. Banyak kemudahan yang selalu dihadapi
oleh ibuku untuk bisa merawat anaknya. Yah beliau adalah pahlawan yang
selalu menyelamatkanku. Bahkan di ulang tahunku barusan. Andaikan ibuku
tidak datang di malam tanggal 14 november pasti demamku yang tinggi
tidak akan turun saat hari ulang tahunku. She always knows how to treat me when I’m sick more than doctor can do to me. Oleh
karena itu, sejak kecil di mataku pun beliau adalah dokter. Bahkan
pernah kupikir beliau pernah belajar tentang kesehatan waktu kuliah
karena pengetahuan beliau yang luas tentang kesehatan. Yah beliau
memang pintar dan serba tahu.
Yah
itulah ibuku seorang wanita salehah, istri yang patuh, ibu yang sangat
sayang kepada anaknya dan pintar memasak, guru bagi anaknya, dan juga
pegawai yang berpengaruh di kantornya. Yah keahliannya itu yang selalu
kebanggakan dari beliau. Hal terpenting yang kunikmati selama 20 tahun
usiaku yaitu pengorbanannya. Yah beliau juga yang memperlihatkan padaku
arti pengorbanan. Beliau telah mengorbankan hidupnya selalu untuk anak
dan suaminya.
Pengalaman
beliau dalam menuntut pelajaran dari kecil hingga besar
menginspirasiku. Bagaimana beliau harus berpisah dengan orang tua sejak
SMA dan berhasil kuliah walaupun dari latar belakang keluarga yang
pas-pasan membuatku sangat kagum pada ibuku. Bagaimana beliau begitu
mandiri dalam hidupnya membuatnya begitu sempurna di mataku.
Kalau
Hari ini adalah Hari Ibu, berbeda bagiku karena kemarin adalah hari ibu
bagiku. Yah tepat tanggal 21 Desember adalah tanggal kelahiran ibuku.
Tahun ini ibuku telah berusia 50 tahun. Rasanya sedih, membayangkan
beliau telah setua itu namun aku belum memberikan apa-apa kepadanya.
Yah, aku masih sangat menikmati segala perhatian yang diberikan
olehnya. Ketika aku memberi ucapan selamat kepadanya, beliau pun
membalasnya dengan kalimat yang membuatku terenyuh dan makin sayang
kepadanya
“Terima
kasih nak,,,,,, tidak terasa sdh 50 thn mama tapi jika melihat anak2
mama waktu 50thn tidak sia-sia. Semoga di sisa hdp mama ini msh bisa
berbuat utk anak suami keluarga dan org lain. Amin”
Ya Rabb, jadikan aku anak yang Shaleh hanya dengan itu aku bisa membahagiankan Bundaku.
Selamat ulang tahun, Moga bunda disayang Allah,,,
Semua ibu adalah pejuang karena telah melahirkan dan membesarkan anak-anaknya tanpa keluhan
Semua ibu adalah legenda atas kemuliannya menghasilkan orang-orang hebat di dunia
Semua ibu hebat, karena mau mengorbankan kepentingannya dan mencurahkan hidupnya untuk merawat anak
Semua ibu
cerdas, tak peduli sampai tingkat apa pendidikannya karena merawat,
membesarkan, dan mendidik anak bukan pekerjaan yang mudah
Menjadi
ibu berarti mengukir masa depan dunia. Untuk itu pekerjaan paling mulia
adalah menjadi ibu. Maka untuk semua ibu, kupersembahkan rasa hormat
dan cinta kepadamu
–Selamat hari Ibu, Moga bunda selalu disayang dan dijaga Allah-