ITB Dulu dan Sekarang (Beta)
Di awal minggu ini, beberapa puluh mahasiswa ITB berjaket
biru berkumpul di studio suatu televisi swasta nasional untuk acara Republik
BBM. Di tahun 1963, saya juga mendapat jaket biru serupa.
Rasanya suasana tidak beda. Penuh
gelak tawa, sindiran, persahabatan, dan terutama kekompakan. Aneh, sebab ITB
telah banyak berubah. Lapangan sepak bola sudah hilang.
Disitu kita main bola, bertikai
denga alat negara di tahun 1969, diserbu oleh tank dan pasukan bersenjata,
sebelum kampus diduduki di tahun 1978.
Disitu orang membakar ban
memprotes Soeharto pada tahun 1989, yang mengakibatkan beberapa orang yang
dipenjara selama beberapa tahun.
Aula Barat berubah fungsi, tidak
lagi seperti pada tahun 1966 di mana puluhan mahasiswa menginap sebelum
berangkat ke jakarta, bukan ke studio televisi, melainkan untuk long march melawan presiden Soekarno. long march dihentikan sebelum
padalarang, tapi romantika sudah tercapai.
Aktivisme mahasiswa ITB bukan
ekspresi politik belaka, tapi lebih merupakan romantika pejuang. Sebagian
aktivis melanjutkan dengan karir politik, masuk Dewan Perwakilan Rakyat(DPR),
menteri, dan pengusaha menggunakan fasilitas politik.
Romantika kampus
Begitu kuat
romantika kampus sehingga waktu itu para aktivis menghabiskan tujuh tahun lebih
sebagai mahasiswa. Senang kita waktu Robert F. Kennedy berpidato di Aula Barat:
“Jangan tanya berapa lama kamu kuliah, tapi tanyalah apa yang kamu lakukan
untuk masyarakat.”
Keren banget, citra diri sebagai pejuang.
Eforia jaket biru membuat mahasiswa menjadi parokial, dalam peristilahan
sekarang narsis, merasa diri unik dan
paling hebat, putra-putri
Indonesia
terbaik.
Sekarang,
lapangan basket tempat orasi menggebu-gebu, sudah berubah menjadi ruang
akademik, menyusul lapangan bola tercinta.
Salah
seorang anak saya berkomentar, “tepat tuh.
Dulu mahasiswa berjuang di lapangan basket, sekarang di internet.” Aktivisme
mahasiswa ITB timbul tenggelam sesuai perubahan masyarakat.
Tapi sering
supply semangat aktivis melebihi demand masyarakat. Isu semakin kompleks
dan susah ditanggapi oleh aksi
massa
.
Kekuatan politik partai didampingi
oleh kekuatan blog dan milis. Dalam 47 tahun sejak Technische Hogeschool
Bandung dan kemudian Fakultas Teknik Universitas
Indonesia
berubah nama menjadi Institut
Teknologi Bandung, banyak yang terjadi.
Ingat lagu ini? “Mother, how are you today?… many things
happened while I was away…” Lagu itu bercerita kisah percintaan di mana si
penyanyi berubah perspektif karena pengalaman cinta.
Banyak mahasiswa yang berubah perspektif
setelah meninggalkan rumah dan menjalani bermacam-macam pengalaman. Ibunya
menunggu di rumah, menghitung tahun kuliah anaknya dan gelar yang akan dicapai.
Tapi jauh dari rumah mengubah perspektif, anak sekolah menjadi orang yang
kompleks.
Hasil kolektif ITB tidak bisa
diukur, apalagi sumbangannya untuk kemajuan bangsa. Suatu istilah hampa. Yang
tidak hampa adalah pergaulan, kebebasan, kepekaan terhadap orang yang beraneka
ragam.
Kekuatan ITB adalah pluralisme. Walaupun aktivis mahasiswa
ITB banyak terseret ke dalam kesetiaan sempit, kalau dilepas pada kepribadian
individu, menurut satu lagi lagi, “Studenten
sind studenten…” mahasiswa tetap mahasiswa, ITB atau bukan. Mahasiswa
senang bebas, senang ceria, senang bergaul. Tidak berubah, apakah di jalan,
lapangaan atau di studio televisi.
WIMAR WITOELAR
Mantan Ketua Dewan Mahasiswa
(DEMA) ITB
artikel diatas gw baca di kompas hari ini(sabtu, 4 Maret 06). sedikit membangkitkan idealisme2 gw yang udah hampir gw lupain karena keseringan berkutat depan komputer(nyambungnya di jalan mana yah???)…sementara, gw blm komentarin soale dah malam euy..it’s time to go back n have a sleep…^_^